Blog Detail

Madzhab Ahlus Sunnah Tentang Turunnya Allah ke Langit Dunia

10 Jan 15
Admin

No Comments

MADZHAB AHLUS SUNNAH TENTANG TURUNNYA ALLAH KE LANGIT DUNIA

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini turunnya Allah Subhanahu wa Ta’ala ke langit dunia dengan turun yang haqiqi, [1] tanpa tasybih (penyerupa-an) dengan turunnya makhluk, juga tanpa tamtsil (penyamaan sifat turunnya Allah seperti turunnya makhluk-pent) serta tanpa takyif (menggambarkan hakikat bagaimana turunnya Allah-pent). Berdasarkan beberapa riwayat hadits shahih yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [2]

Di dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

???????? ???????? ????????? ?????????? ????? ???????? ????? ?????????? ?????????? ????? ??????? ?????? ????????? ????????? ???????: ???? ?????????? ????????????? ????? ???? ??????????? ????????????? ???? ??????????????? ?????????? ????

“Rabb kami Tabaaraka wa Ta’aalaa turun ke langit dunia pada setiap malam ketika tinggal sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: ‘Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan do’anya, barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi permintaannya, dan barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.’” [3]

Hadits tentang turunnya Allah (an-nuzuul) ini merupakan hadits-hadits yang mutawatir (diriwayatkan oleh orang banyak yang menurut akal mustahil mereka berdusta -pent). Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan sebanyak 29 Sahabat Radhiyallahu anhum yang meriwayatkan hadits tentang turunnya Allah ke langit dunia ini.[4]

Kapan Waktu Turunnya Allah ke Langit Dunia?
Terdapat riwayat yang berbeda-beda tentang penentuan waktu turunnya Allah ke langit dunia. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu terdahulu yang menunjukkan bahwa turunnya Allah terjadi pada sepertiga malam terakhir. Dan ini merupakan riwayat yang paling shahih, sebagaimana yang akan dijelaskan kemudian. Namun ada pula beberapa riwayat lain yang berbeda.

Dalam menyikapi perbedaan riwayat ini, para ulama menempuh jalan tarjih (mengambil pendapat yang lebih kuat dan tepat-pent) atau al-jam’u bainar riwaayaat (menyatukan semua riwayat untuk mengambil satu kesimpulan-pent).
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menuturkan, “Tidak terdapat perbedaan riwayat dari az-Zuhri[5] tentang penentuan waktu. Namun terjadi perbedaan di antara riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dengan yang lainnya. At-Tirmidzi mengomentari, “(Bahwa) riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu merupakan riwayat yang paling shahih dalam masalah ini dari semua riwayat yang ada.”[6] Hal itu semakin di-perkuat pula dengan adanya perbedaan pada ruwat (rangkaian penutur hadits -pent) di antara riwayat-riwayat yang berbeda tersebut.

Sebagian ulama lain menempuh metode al-jam’u, bahwa riwayat-riwayat tersebut bermuara pada enam point, yaitu:

Pertama, turunnya Allah ke langit dunia terjadi ketika tinggal sepertiga malam terakhir.
Kedua, terjadi ketika sepertiga malam pertama telah berlalu.
Ketiga, terjadi pada sepertiga malam pertama atau tengah malam.
Keempat, pada tengah malam.
Kelima, pada tengah malam atau sepertiga malam terakhir.
Keenam, terjadi secara mutlak tanpa penentuan waktu.

Adapun riwayat yang menunjukkan pada kemutlakannya, mengandung makna yang terikat pula. Adapun riwayat yang menggunakan kata ????(atau), jika kehadirannya karena demikian adanya atau disebabkan adanya keraguan (dalam meriwayatkannya), maka yang lebih meyakinkan adalah harus diutamakan daripada yang masih diragukan (dengan metode tarjiih -pent). Dan jika kata ???? (atau) tersebut ada karena bimbang di antara dua hal yang sama kuatnya, maka riwayat-riwayat itu disatukan (dengan metode al-jam’u-pent) dengan kesimpulan bahwa turunnya Allah ke langit dunia terjadi sesuai dengan perbedaan situasi dan kondisi, karena keadaan wak-tu malam sendiri pun seringkali berbeda-beda disebabkan perbe-daan waktu malam yang lebih cepat masuk dalam sebuah wilayah komunitas tertentu, sementara untuk wilayah komunitas yang lain waktu malam itu lebih lambat masuk.”

Pendapat lainnya mengatakan, “Ada kemungkinan turunnya Allah ke langit dunia terjadi pada sepertiga malam pertama. Sedangkan pendapat ini cenderung mengatakan bahwa hal ini terjadi pada tengah malam atau sepertiga malam kedua.

Pendapat lainnya menyatakan, “Ada kemungkinan bahwa waktu turunnya Allah ke langit dunia terjadi di semua waktu yang disebutkan dalam riwayat-riwayat hadits terdahulu. Dan dimungkinkan juga bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikabarkan tentang salah satu dari peristiwa perkara tersebut yang terjadi pada satu waktu, lalu beliau mengabarkan berita tersebut. Kemudian beliau dikabarkan kembali tentang peristiwa serupa, yang terjadi di waktu yang ber-beda, kemudian beliau mengabarkannya. Selanjutnya, para Sahabat menukilkan semua kejadian ini dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan berita yang mereka dapatkan masing-masing. Wallaahu a’lam.[7]

[Disalin dari buku At Tabaruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu, Judul dalam Bahasa Indonesia Amalan Dan Waktu Yang Diberkahi, Penulis Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Tentang masalah turunnya Allah ke langit dunia secara hakikat (sesungguhnya) dan bukan dimaknai secara majazi (metafora), dapat dilihat dalam kitab Mukhtasharush Shawaa-iqil Mursalah ‘alal Jahmiyyah wal Mu’atthilah, karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah (II/217).
[2]. Untuk memperkaya wawasan mengenai turunnya Allah ke langit dunia ini, silahkan merujuk ke beberapa kitab seperti Kitaabut Tauhiid karya Ibnu Khuzaimah (I/289-327), Kitaabus Syarii’ah milik al-Ajurri (hal 306-314), Kitaabun Nuzuul milik ad-Daraquthni dan kitab Syarh Hadiits an-Nuzuul karya Ibnu Taimiyyah.
[3]. Shahih al-Bukhari (VIII/197) Kitaabut Tauhiid dan Shahih Muslim (I/521) kitab Shalaatul Musaafiriin.
[4]. Mukhtasharush Shawaa-iq al-Mursalah (II/232).
[5]. Dia adalah Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin Syihab Abu Bakar al-Qurasyi az-Zuhri al-Madani. Seorang imam, alim, hafizh pada zamannya, diriwayatkan bahwa beliau menghapal al-Qur-an hanya dalam 80 malam, wafat tahun 124 H. Lihat Siyar A’laamin Nubalaa’ (V/226) dan Tadzkiratul Huffaazh (I/108).
[6]. Lihat Sunan at-Tirmidzi (II/309).
[7]. Fat-hul Baari (III/31), lihat Syarh Hadiitsin Nuzuul karya Ibnu Taimiyyah (hal. 107-108) dan Mukhtasharush Shawaa’iq al-Mursalah (II/232).

Leave A Comment

*