Blog Detail

Melepaskan 3 Tali Setan [Video]

25 Feb 16
Admin

No Comments

3 Tali Setan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mari kita simak hadis berikut

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ مَكَانَ كُلِّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

Setan mengikat di tengkuk kepala kalian saat ia tidur dengan tiga ikatan yang pada masing-masingnya tertulis, ‘Malammu masih panjang, tidurlah yang nyenyak!’

Apabila dia bangun lalu berdzikir kepada Allah, maka satu ikatan lepas. Apabila dia berwudhu, satu ikatan lagi akan lepas.  Dan apabila dia shalat, satu ikatan lepas lagi. Sehingga di pagi hari dia dalam keadaan semangat dengan jiwa yang lapang. Namun jika dia tidak melakukan hal itu, maka di pagi hari jiwanya kotor dan dia menjadi malas.” (HR. Bukhari 1142 & Muslim 1855).

Kata as-Sindi dalam catatannya,

ولعل ذلك يكون سببا لثقل النوم يمنع الإنسان من رفع الرأس عن موضعه في حالة النوم ولذلك خص القافية لأن الثقل فيها أشد منعا للرأس من الرفع…

Mungkin ini yang menjadi sebab orang itu menjadi berat bangun ketika tidur. Seseorang sangat susah untuk mengangkat kepalanya dari bantalnya ketika tidur. Karena itulah disebutkan tengkuk, karena ini yang paling susah diangkat…

Beliau juga mengatakan,

ولعل تخصيص العقد بالثلاث لتمنع كل عقدة عن واحد من الأمور الثلاث أعني الذكر والوضوء والصلاة

Mengapa menggunakan ikatan, mungkin masing-masing ikatan untuk menghalangi 3 jenis ibadah: berdzikir ketika bangun, wudhu, dan shalat.  (Hasyiyah as-Sindi ‘ala Ibn Majah, 1/399)

Dalam hadis terdapat anjuran untuk berdzikir ketika bangun tidur. Dalam suasana sedang loading… hati dipaksa ingat Allah dan lidah dipaksa mengucapkan dzikir.

Dzikir apa yang dimaksud?

Kita simak keterangan as-Sindi,

قوله ( فذكر الله ) بأي ذكر كان لكن المأثور أفضل

Keterangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “dia berdzikir menyebut nama Allah ketika bangun.” Artinya dengan dzikir apapun, namun dzikir yang ma’tsur (yang diajarkan dalam dalil) lebih afdhal. (Hasyiyah as-Sindi ‘ala Ibn Majah, 1/399).

Diantara dzikir ma’tsur yang bisa dibaca ketika bangun tidur,

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ.

‘Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami dan kepadanya kami dikem-balikan’. (HR. Bukhari, 6312)

Shalat apa yang dimaksud?

Ada dua pendapat ulama,

Pertama, shalat yang dimaksud adalah shalat isya’. Karena shalat isya, termasuk shalat lail. Ini adalah pendapat al-Hafidz Ibnu Hajar.  Beliau menyimpulka dari keterangan al-Bukhari ketika membawakan hadis ini,

باب عقد الشيطان على قافية الرأس إذا لم يصل بالليل

Pembahasan tentang setan akan mengikat tengkuk kepala manusia jika dia tidak shalat malam.

Kemudian, al-Hafidz mengatakan,

ويحتمل أن تكون الصلاة المنفية في الترجمة صلاة العشاء ، فيكون التقدير : إذا لم يصل العشاء ، فكأنه يرى أن الشيطان إنما يفعل ذلك بمن نام قبل صلاة العشاء ، بخلاف من صلاها ، ولا سيما في الجماعة

Mungkin maksud shalat yang ditiadakan dalam keterangan Bukhari adalah shalat isya. Sehingga maksud Bukhari bisa diasumsikan: ‘Jika dia tidak shalat isya di malam hari’. Seolah beliau berpendapat, bahwa setan mengikat 3 ikatan itu bagi orang yang tidur sebelum shalat  isya. Berbeda dengan orang yang sudah shalat isya, terlebih jika dia lakukan secara berjamaah. (Fathul Bari, 3/24).

Alasan Ibnu Hajar yang lain adalah karena dalam hadis ini isinya ancaman. Sementara ancaman hanya mungkin diberikan untk orang yang meninggalkan kewajiban.

Al-Hafidz mengatakan,

وكأنه أشار إلى خطأ من احتج به على وجوب صلاة الليل حملا للمطلق على المقيد

Seolah Bukhari mengisyaratkan tentang kesalahan orang yang berdalil dengan hadis ini untuk menyatakan wajibnya shalat malam (tahajud) dengan memahami kalimat mutlak dalam hadis kepada makna terikat. (Fathul Bari, 3/24)

Kedua, shalat yang dimaksud adalah shalat malam

Pendapat ini didukung dengan hadis lanjutannya yang dibawakan Bukhari, dari Abdullah  radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat informasi ada orang yang tidur di malam hari sampai subuh. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِى أُذُنَيْهِ – أَوْ قَالَ – فِى أُذُنِهِ

Orang itu, kedua telinganya dikencingi setan.. (HR. Bukhari 3270).

As-Sindi menjelaskan hadis di atas dalam sunan Ibnu Majah,

فظاهر كلام المصنف وغيره أنه ترك صلاة الليل وذلك إشارة إلى الرجل النائم

Dzahir hadis yang dibawakan penulis dan yang lainnya bahwa dia meninggalkan shalat malam. Diisyaratkan dengan orang yang tidur lama. (Hasyiyah as-Sindi ala Ibn Majah, 1/399).

Bagaimana jika lupa atau tidak shalat malam?

Jika kita mengambil pendapat kedua, tentu batasan shalat lail adalah sampai subuh. Sehingga jika sudah masuk waktu subuh, kesempatan untuk melepas ikatan itu bisa kita lakukan dengan dzikir dan wudhu.

Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu istiqamah melaksanakan shalat lail.

Allahu a’lam.

sumber:
– www.yufid.com
– www.konsultasisyariah.com

Leave A Comment

*