Blog Detail

[Video] Penjelasan Pakar Kristologi : Valentine’s Day Kemaksiatan untuk Menghancurkan Moral

11 Feb 15
Admin

No Comments

Alhamdulillah, Wassholatu wassalamu ‘ala Rosulillah.
Pada kesempatan kali ini disajikan dalam penjelasan Video oleh Pakar Kristologi (mantan Biarawati) Hj. Irena Handono, tentang Valentine’s Day (hari Valentine).
Silahkan disimak penjelesan ilmiah beliau,

Berikut kami paparkan 6 (enam) kerusakan Valentine’s Day ini (binamasyarakat.com : 2015):

Kerusakan pertama, Merayakan Valentine Berarti Meniru-niru Orang Kafir. Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam beberapa ayat dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga merupakan kesepakatan para Ulama. Rasululllah memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nasrani. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nasrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka”. (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103). Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nasrani secara umum dan diantara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (lihat Iqtidha’ ash-Shirathal Mustaqim li Mukhalafati Ashhabil Jahim, 1/185).

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau bersabda:
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.(HR. Ahmad dan Abu Dawud). Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha’ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil no. 1269. Jelas bahwa hari Valentine adalah perayaan paganisme yang diadopsi menjadi ritual agama Nasrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.

Kerusakan kedua, Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman. Allah Ta’ala mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama semacam Valentine.

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan  yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya”. (QS. al-Furqan: 72).

Ibnul Jauzi dalam Zaadul Maysir mengatakan bahwa ada delapan pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”. Pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan “zur”. Diantara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan orang zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh ar-Rabi’ bin Anas.

Jadi ayat tersebut di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidha’, 1/483). Jadi merayakan Valentine’s Day bukanlah ciri orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.

Kerusakan ketiga, Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti. Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan sebagaimana penjelasan beberapa hadits berikut ini.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kapan terjadi hari kiamat wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab: “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “(Kalaupun begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain di Shahih Bukhari, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).” Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka”.

Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang tokoh Nasrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda. Dan Valentine-lah sebagai pahlawan dan pejuang ketika itu. Lihatlah sabda Nabi di atas; “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. Jika kalian seorang muslim, manakah yang kalian pilih, dikumpulkan bersama orang-orang shalih ataukah bersama tokoh Nasrani yang jelas-jelas kafir itu? Apakah kalian mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang kafir? Maukah kalian seperti itu? Na’udzubillahi min dzalik.

Kerusakan Keempat, Ucapan “Selamat” Berakibat Terjerumus dalam Kesyirikan dan Maksiat. Valentine sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (jadilah valentineku)”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.

Kerusakan kelima, Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat untuk Berzina. Perayaan Valentine di masa sekarang ini telah mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal.

Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih, seakan-akan ada kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandengan tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzubillahi min dzalik. Padahal mendekati zina saja haram apalagi melakukannya.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (QS. al-Isra’: 32).

Dalam tafsir Jalalain dikatakan bahwa ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘janganlah melakukannya’, artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.

Kerusakan keenam, Meniru Perbuatan Setan. Menjelang hari Valentine berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan oleh sebagian besar remaja Muslim di Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine lalu menghabiskan dana hingga milyaran rupiah.

Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا . إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan adalah syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”. (QS. al-Isra’: 26-27).

Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini, Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim).

Itulah beberapa kerusakan yang terjadi, sebenarnya, cinta dan kasih sayang yang diagung-agungkan di hari tersebut adalah sesuatu yang semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Perlu diketahui pula bahwa Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh agama lainnya, seperti India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu.

Khatimah

Valentine’s Day hanya sebuah sarana dari sekian banyak sarana peradaban Barat yang sesungguhnya merusak aqidah dan kemurnian ibadah umat Islam. Ada baiknya kita merenungkan pernyataan sosiolog Muslim terkenal, Ibnu Khaldun:

“Yang kalah cenderung mengekor kepada yang menang dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata, bahkan meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk dalam hal ini adalah mengikuti adat-istiadat mereka…”.

Valentine’s Day telah memakan banyak korban, khususnya generasi muda Muslim yang umumnya memang bodoh dan tidak peduli dengan agamanya sendiri. Entah sampai kapan umat ini mampu berkata “TIDAK” atas segala millah kaum kuffar.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Leave A Comment

*